Biografi
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (lahir di Cepu, Jawa Tengah, 7 Januari 1905 – meninggal 5 September 1962 pada umur 57 tahun) adalah sufi Islam Indonesia yang memimpin pemberontakan Darul Islam melawan pemerintah Indonesia dari tahun 1949 hingga tahun 1962, dengan tujuan menggulingkan ideologi Pancasila dan mendirikan Negara Islam Indonesia berdasarkan hukum syariah
S. M. Kartosoewirjo juga bekerja sebagai Pemimpin Redaksi Koran harian Fadjar Asia.
Ia membuat tulisan-tulisan yang berisi penentangan terhadap bangsawan
Jawa (termasuk Sultan Solo) yang bekerjasama dengan Belanda. Dalam
artikelnya nampak pandangan politiknya yang radikal. Ia juga menyerukan
agar kaum buruh bangkit untuk memperbaiki kondisi kehidupan mereka,
tanpa memelas. Ia juga sering mengkritik pihak nasionalis lewat
artikelnya
Kariernya kemudian melejit saat ia menjadi sekretaris jenderal Partai Sarekat Islam Indonesia
(PSII). PSII merupakan kelanjutan dari Sarekat Islam. Kartosoewirjo
kemudian bercita-cita untuk mendirikan negara Islam (Daulah Islamiyah).
Menurut Kartosoewirjo, PSII adalah partai yang berdiri di luar lembaga
yang didirikan oleh Belanda. Oleh karena itu, ia menuntut suatu
penerapan politik hijrah yang tidak mengenal kompromi. Menurutnya, PSII
harus menolak segala bentuk kerjasama dengan Belanda tanpa mengenal
kompromi dengan cara jihad. Ia mendasarkan segala tindakkan politiknya
saat itu berdasarkan pembedahan dan tafsirannya sendiri terhadap
Al-Qur’an. Ia tetap istiqomah pada pendiriannya, walaupun
berbagai rintangan menghadang, baik itu rintangan dari tubuh partai itu
sendiri, rintangan dari tokoh nasionalis, maupun rintangan dari tekanan
pemerintah Kolonial
Kekecewaannya terhadap pemerintah pusat semakin membulatkan tekadnya untuk membentuk Negara Islam Indonesia. Kartosoewirjo kemudian memproklamirkan NII pada 7 Agustus 1949. Tercatat beberapa daerah menyatakan menjadi bagian dari NII terutama Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh.
Pemerintah Indonesia kemudian bereaksi dengan menjalankan operasi untuk
menangkap Kartosoewirjo. Gerilya NII melawan pemerintah berlangsung
lama. Perjuangan Kartosoewirjo berakhir ketika aparat keamanan
menangkapnya setelah melalui perburuan panjang di wilayah Gunung Rakutak di Jawa Barat pada 4 Juni 1962. Pemerintah Indonesia kemudian menghukum mati Kartosoewirjo pada 5 September 1962 di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar